Co-author: Natalia Rialucky, Timothy Rann, David Soukhasing

Tags: Social enterprise | Impact investing | Impact measurement

 se-logo

 

Salah satu hal yang paling sering ditanyakan oleh impact investor kepada social entrepreneur (wirausahawan sosial) ialah, “Bagaimana cara anda mengukur dampak sosial dari usaha Anda?”. Sayangnya, seringkali pertanyaan tersebut umumnya adalah pertanyaan terakhir social entrepreneur ingin temui. Di dalam pemikiran entrepreneur, mengikuti perkembangan dampak sosial merupakan tugas yang tidak mudah dilakukan, karena dalam penerapannya kerap kali membutuhkan upaya signifikan untuk mengadakan survei dan bahkan dalam beberapa kasus sangat sulit untuk mendapatkan indikator yang sesuai untuk mengukur dampak sosial. Para social entrepreneur menghadapi tantangan yang berat dalam mencari modal, tenaga kerja, dan sumber daya lainnya, sehingga hanya sedikit social entrepreneur yang mampu mengalokasikan waktu dan dana untuk kepentingan pengukuran dampak sosial. Selain itu, banyak pengusaha yang tidak menyadari bagaimana kegiatan tersebut dapat mempengaruhi bisnis mereka. Umumnya, para pengusaha melakukan survei hanya karena dipertanyakan oeh para investor atau donor.

 

Di dalam ekosistem social impact saat ini terdapat dua solusi ekstrim:

  • (1) Pendekatan orthodox (“akademik”) yang melibatkan penilaian dasar dan konsistensi pengumpulan data untuk memahami dampak dari kelompok kontrol (baseline) versus kelompok yang dipengaruhi oleh bisnis. Pelaksanaan pendekatan ini memakan biaya yang sangat mahal dan memakan waktu bertahun-tahun untuk hasil yang sepenuhnya berkembang. Sementara itu, bisnis mungkin telah berpaling dari target pelanggan utama, misi sosial utama, atau keduanya. Dengan demikian, data yang diperoleh tidak lagi dapat dihunakan untuk operasional dan startegi bisnis.
  • (2) Pendekatan praktikal dengan hanya menghitung jumlah pelanggan atau beneficiaries (penerima manfaat dari pembelian produk atau jasa yang ditawarkan perusahaan). Bisnis selalu melacak metrik tersebut, namun, tidak jelas apakah penjualan produk dapat benar-benar mengarahkan pada dampak positif yang lebih besar. Misalnya, sebuah keluarga membeli kompor masak yang hemat bahan bakar dan tidak menghasilkan polusi. Akan tetapi, keluarga tersebut mungkin tidak menggunakan kompor secara efektif, sehingga justru menghasilkan lebih banyak polusi dalam rumah tangga, memberikan dampak negatif.

Impact investors (Penanam modal di bidiang usaha sosial) di negara lain seperti Acumen dan Accion[1] mampu mendukung portofolio mereka dalam melacak metrik yang diakui secara global seperti IRIS dan memperoleh data berkualitas. Institusi lainnya, seperti inisiatif pemerintah, didukung oleh ketersediaan Social Return on Invesment (SROI)[2].

 

Di sisi lain, kami telah melihat banyak pengusaha sosial pada tahap awal yang tidak mengalokasikan waktu untuk memikirkan pengukuran metrik, tetapi hanya melihat jumlah pelanggan tanpa memikirkan bagaimana usaha mereka memperbaiki kehidupan mereka. Seringkali bisnis memiliki gagasan yang kabur dari dampak sosial yang ditujukan, dan tidak menghubungkan kegiatan utama mereka (i.e. menjual produk atau jasa) dengan dampak yang lebih besar dan berjangka panjang (i.e. meningkatkan mata pencaharian untuk keluarga pedesaan).

 

Mengikuti perkembangan dampak perusahaan sosial seharusnya tidak menjadi proses yang dibuat-buat. Melainkan harus menjadi inti dari setiap model perusahaan sosial. Penasihat kami, Timothy Rann, Senior Advisor di Mercy Corps Social Ventures Fund, menyarankan agar setiap perusahaan sosial harus memiliki Impact logic (logika dampak sosial) yang jelas. Bagaimana setiap activity (kegiatan usaha) menghasilkan output, dan bagaimana output ini dapat menghasilkan outcome (hasil yang diinginkan) bagi para beneficiaries dan akhirnya menghasilkan impact (dampak positif) jangka panjang.

 

impact-logic

Figure 1

Impact Logic

 

Salah satu contoh menarik ialah Du’Anyam – perusahaan sosial yang bertujuan untuk mengurangi angka kematian Ibu dan bayi di Flores. Bisnis utama dari Du’Anyam ialah untuk merancang dan memproduksi produk fashion (seperti tas dan sandal) menggunakan dahan anyaman yang dianyam oleh ibu hamil di Flores. Kegiatan usaha Du’Anyam meliputi memberi panduan, pelatihan dan pemberdayaan ibu hamil di Flores. Kegiatan ini diharapkan dapat menolong para wanita ini untuk menjual keranjang sehingga memberi mereka penghasilan tambahan. Mengetahui jumlah wanita yang bekerja dengan Du’Anyam merupakan awal, namun untuk mengukur seberapa besar dampak yang dihasilkan, Du’Anyam harus mengetahui penghasilan wanita-wanita ini sebelum dan setelah mereka mengikuti program dari Du’Anyam. Peningkatan penghasilan para ibu diharapkan dapat meningkatkan tingkat gizi ibu hamil, serta meningkatkan daya tawar para wanita di Flores dalam menentukan keputusan pribadi dan keluarga. Logika ini tentu membutuhkan tingkat asumsi tertentu, namun tim dan investor harus nyaman dengan asumsi dan berusaha untuk mengontrol variabel lain yang dapat berpengaruh. Dalam hal ini, asumsi utama yang digunakan ialah peningkatan penghasilan Ibu – Ibu akan digunakan untuk membeli makanan bergizi dan program ini akan mengurangi tingkat stres kehamilan – sebelumnya stress kehamilan diakibatkan oleh keharusan para Ibu melakukan pekerjaan pertanian. Dampak jangka panjang yang diharapkan dari upaya ini ialah untuk mengurangi jumlah kematian ibu hamil di Flores. Terdapat lebih banyak lagi asumsi yang perlu dipertimbangkan dalam menerjemahkan hasil menjadi dampak sosial, semakin besar dampak yang ditujukan semakin besar asumsi yang digunakan. Du’Anyam berkomitmen untuk melacak % peningkatan status gizi para wanita dan posisi mereka dalam mengambil keputusan dengan melakukan Survei Demografi dan Kesehatan sebagai sarana untuk mengetahui hasil dan kemudian mengetahui angka kematian Ibu dan bayi di Flores sebagai dampak akhir dari bisnis mereka.

 

Salah satu tip praktis untuk para pengusaha, ialah untuk fokus pada metrik jangka pendek yang berkaitan dengan inti operasional usaha (kegiatan dan hasil). Pada fase awal, Anda perlu mengasumsikan bahwa pencapaian output akan mengarahkan pada pencapaian hasil dan dampak. Selain itu, Anda juga ingin memastikan apakah Anda mencapai target beneficiaries Anda. Namun, Anda tidak perlu melakukan pengukuran hasil atau dampak hingga pada tahap selanjutnya saat bisnis anda telah berjalan lebih stabil dan memiliki sumber daya yang tepat. Pada fase startup, hal yang penting bagi pengusaha ialah untuk secara konsisten memperbaiki produk dan jasa hingga dapat menjangkau kebutuhan utama pelanggan. Cara terbaik untuk menerapkan hal ini ialah dengan mengumpulkan kritik dan saran pelanggan serta informasi mendalam terkait produk dan jasa sebanyak mungkin. Berdasarkan logika berpikir Anda, apabila Anda secara konsisten meningkatkan produk atau jasa dan mencapai target pelanggan, maka kegiatan usaha Anda mengarah pada dampak jangka panjang.

 

Salah satu sumber referensi yang berguna ialah Acumen’s Lean Data[3], yang menganjurkan bahwa pengukuran metrik kepuasan pelanggan dapat berguna untuk lebih mengenal beneficiaries Anda dan seberapa besar produk Anda memberi dampak bagi mereka. Pertanyaan-pertanyaan Acumen’s Lean Data merupakan campuran dari metrik kepuasan pelanggan (seperti Net Promoter Score) dan survei umum mengenai penerima manfaat. Kritik dan saran dari pelanggan merupakan hal yang penting untuk memperoleh preferensi pelanggan yang kemudian dapat membantu pengusaha dalam meningkatkan pelayanan mereka. Dengan mengasumsikan sasaran pelanggan Anda adalah penerima manfaat anda, akan membantu anda dalam memastikan dampak pada mereka.

Terlepas dari kompleksitas pelacakan metrik sosial dan menjadikan pendapat pelanggan sebagai ukuran dampak, memperoleh data berkualitas merupakan tantangan utama bagi para pengusaha sosial. Mengendalikan bias dan mengesampingkan outliers tetap perlu dibahas dalam setiap pengukuran metrik sosial.

 

Mengukur dampak sosial usaha Anda mungkin tidak serumit yang anda pikirkan dan Anda dapat selalu mengembangkannya seiring dengan bertumbuhnya usaha Anda. Selama Anda memiliki logika dampak yang jelas dalam pemikiran anda, mengukur dampak sosial dapat berjalan bersamaan dengan mengikuti mengukur pencapaian bisnis Anda.

[1] https://iris.thegiin.org/users

[2] http://www.aphsa.org/content/dam/aphsa/pdfs/Innovation%20Center/2013-05-Social-Return-on-Investment-Brief.pdf

[3] http://plusacumen.org/courses/lean-data/

 

Co-authors: Natalia Rialucky, Timothy Rann, David Soukhasing

Social enterprise | Impact investing | Impact measurement

 

One of the most frequently asked questions by impact investors to entrepreneurs, “How do you track your social impact?” Unfortunately, this may be the last question entrepreneur is able to answer. In the minds of entrepreneurs, tracking social impact has never been an easy task, most of the time it requires significant work to conduct surveys and in some cases there are challenges to get the right indicator to track the social impact. Entrepreneurs already face challenges in attracting capital, talent and other resources, few are able to allocate precious limited time and funding to expensive impact measurement activities. Moreover, many entrepreneurs do not see how this values their business. They do it simply because an investor or donor asks for this information.

 

In the impact space world currently there are two extreme solutions:

  • (1) orthodox (“academic”) approach that involves a baseline assessment and consistent surveying / data collection to understand the impact of a control group (baseline) versus the group impacted by the business. This is very expensive (tens of thousands of dollars) and the results may take years to fully develop. In the meantime, the business might have pivoted away from its original target customer, social mission or both. Thus, the data is not useful for the business’ operations or strategy.
  • (2) practical approach by only counting outputs, or the number of beneficiaries that purchase a product or service from a company. Businesses always track metrics like these. However, it is not clear if the sale of a product actually leads to some positive larger impact. For example, a family might purchase a cook stove that reduces fuel usage and does not pollute. However, they may not use the stove effectively, and as a result end up with more pollution in their household, causing a negative impact.

 

More mature impact investors in much more mature market such as Acumen and Other institution such as government supported initiatives may have the Social Return on Investment (SROI)[2] available.

Meanwhile on the other end, we have seen many early stage social entrepreneurs who had not spent time to think about measuring their metrics, but only looking at the number of beneficiaries without thinking how their businesses improve their lives. Often businesses have a vague idea of their intended social impact, and do not link their main activity (i.e. selling a product or service) with a larger, long-term impact (i.e. improved livelihoods for rural families).

Tracking social impact for social enterprises should not be an artificial process. Rather it should be at the core of each social enterprise business model. Our advisor, Timothy Rann, Senior Advisor at Mercy Corps Social Ventures Fund, suggested that every social enterprise should have a clear Impact logic. How does each business activity generate output, and how this output can result in desirable outcome for the beneficiaries and eventually generate a positive long-term impact.

impact-logic

Figure 1

Impact logic

One case example is Du’Anyam – a social enterprise that aims to reduce number of maternal health death rate in Flores. Du’Anyam’s core business is to design and manufacture fashion products (i.e. bags and slippers) using wicker sheets weaved by expecting mothers in Flores. Du’Anyam’s business activities involves scouting, training and empowering expecting mothers in Flores. These activities are expected to (output) help these women sell baskets thus providing them with incremental income. Tracking number of women Du’Anyam is working with is a start, but to measure the output, Du’Anyam needs to track the income of these women before and after joining their program. The expectation out of the improved income for the mothers (outcome) is to increase nutrition status of women of childbearing age, as well as higher bargaining power for women in Flores to make personal and family decision. This expected outcome does require a degree of assumption, however the team and investor should be comfortable with the assumption and make effort to control other influencing variables. In this case the main assumption is that the improved income will be spent in purchasing nutrition and that the women in the program will have less stressful pregnancies –initially caused by agriculture work. Out of this effort, the expected long term impact is to reduce number of maternal death in Flores. There are more assumptions to consider when translating outcome to impact, the further away the impact the bigger the assumption. Du’Anyam is committed to track % increase in women’s nutrition status and decision making power by rolling out Demographic and Health Survey (DHS) as a mean to track their outcome and eventually look at number of maternal health in Flores as their end impact.

 

One practical tip for entrepreneurs, is to focus on short-term metrics that are tied to your core operations (activities and outputs). In the early startup phase, you will need to assume that achieving outputs will lead to outcomes and impact. Moreover, you will want to ensure that you are reaching your target beneficiaries. However, you may not necessarily measure outcomes or impact until a later stage when the business is more stable and has the proper resources. In the startup phase, what is critical for entrepreneurs is to constantly refine their product or service so that it addresses a core customer need. The best way to do this is to gather customer feedback and insights as much as possible. According to your logic model, if you are constantly improving your products or services and reaching your target customers, your activities will eventually lead to a longer term impact.

 

One useful resource on how to track customer insight is Acumen’s Lean Data[3], which rely on the assumption that tracking your business metrics can provide meaningful customer insights that will be useful to know more about your beneficiaries and how much does your product impact them.  Acumen’s Lean Data questions are a mix of customer satisfaction metrics (such as Net Promoter Score) and general survey about the beneficiary. Customer feedback is important to generate insights to help entrepreneurs improve their product and services to better serves the customers. With the assumption that your target customers are your beneficiaries, this will help in ensuring impact to them too.

 

Despite the complexity in tracking social metrics and converting customer insight to impact measurement, obtaining good quality data is still the main challenge for entrepreneurs. Sample representativeness, controlling for bias and ruling out outliers still need to be covered in every metrics tracking exercise.

Tracking your social impact may not be as troublesome as you think and you can always stage it as the company grows. As long as you have a clear impact logic in mind, tracking social impact can be hand in hand with tracking the business achievements.

 

[1] https://iris.thegiin.org/users

[2] http://www.aphsa.org/content/dam/aphsa/pdfs/Innovation%20Center/2013-05-Social-Return-on-Investment-Brief.pdf

[3] http://plusacumen.org/courses/lean-data/

Pin It on Pinterest