Nely Sofiana, Di Belakang Layar Bersama Kelompok Nina Penenun

Language: ID | EN

Sebagai bendahara dari Kelompok Nina Penenun, Nely merasa telah belajar banyak dari keterlibatannya dalam organisasi. Keberadaan organisasi perempuan tidak hanya membantu banyak perempuan Lombok untuk mandiri, namun juga aktualisasi diri.

Badan selalu ngilu, dan tekanan darah sering naik, begitulah yang dialami Nely Sofiana, bendahara dari Kelompok Nina Penenun, sebuah kelompok perempuan penenun di Pringgasela, Lombok Timur, sebelum ia bergabung ke kelompok tersebut. “Tahu enggak, dek… Dulu sebelum ada kelompok ini, saya sempat kena hipertensi! Tapi setelah ada kelompok ini, sakit saya sembuh,” ujar Nely Sofiana menceritakan betapa berharganya Kelompok Nina Penenun untuknya.

Sambil merapihkan kain tenun, Bu Nely dengan bangga menceritakan kain Tenun Sukarare dan perkembangan perempuan serta para penenun di desa tersebut.

Ketika kami datang untuk bertemu dengannya di balai tenun, tempat kelompok tersebut berkumpul dan mengadakan diskusi. Ia dengan bangganya menunjukkan hasil karya tenun dari para penenun Pringgasela yang bermitra dengan kelompoknya. Motif tenun di Pringgasela memang sederhana, tetapi warnanya yang lembut berasal dari pewarna alam yang diambil dari dari tumbuh-tumbuhan. “Kami memang ambil pewarna dari tumbuhan, khususnya yang ada di pantai. Jadi konsistensi warnanya juga berbeda-beda…” Cerita dari Ibu Nely membuat kami tertarik untuk memborong kain tenun mereka dengan iming-iming sedikit diskon darinya.

Gelegar Suara Perempuan di Pringgasela

Proses memintal benang yang dilakukan oleh penenun desa Pringgasela. Mereka ditemani oleh bu Nely dalam setiap proses produksinya.

Dengan haru, Nely menyatakan bahwa akhirnya perempuan mendapatkan suara di musyawarah desa sejak seringnya mengikuti pengembangan kapasitas dari Gema Alam, salah satu LSM yang bekerja sama dengan Kelompok Nina Penenun. Sebelum itu, para perempuan di Pringgasela merasa segan untuk memunculkan diri di kantor desa. “Dulu itu banyak yang ndak pede. Haduh… mending di dapur saja katanya,”. Namun setelah mendapat banyak pengalaman dan pelatihan, mereka mulai memberanikan diri untuk menyampaikan aspirasi mereka di kantor desa. Karena itu pula, sejak tahun ini akhirnya mulai ada dana yang dikhususkan untuk persoalan-persoalan khusus perempuan, misalnya dana santunan tiap bulan untuk janda atau perempuan tua yang sudah tidak berkeluarga. Karena itu, bu Nely merasa bahwa Kelompok Nina Penenun ini membawa banyak perubahan positif baik untuk dirinya dan untuk masyarakat Pringgasela, terutama perempuan.

Gali Lubang dan Tutup Lubang dalam Menenun

Mengecek satu per satu, Bu Nely memastikan agar warna dari pewarna alam yang didapat bisa konsisten. Di sini, Bu Nely sedang melihat benang yang sudah dicelup ke pewarna tarum (indigofera), warna yang membutuhkan waktu paling lama untuk diperoleh.

“Menenun menjadi kebanggaan disini. Wah, kalau tidak menenun, bisa malu dengan tetangga! Makanya mereka sering berhutang untuk membeli benang. Kelompok ini dibuat karena permasalahan kesejahteraan dari ibu-ibu disini. Banyak para penenun terjerat hutang oleh tengkulak dan juga para penenun yang menjual tenunnya dengan harga terlalu murah pada calo. Kalau hasilnya tidak imbang, kami takut tenun Lombok akan lenyap. Dengan bergabung sebagai mitra kami, mereka bisa mendapatkan harga dan sistem pendukung yang lebih baik,” jelas bu Nely panjang lebar ketika ditanya tentang awal mula pembentukan Kelompok Nina Penenun. Sempat merasa frustasi dan ragu selama enam bulan pertama, karena kelompok Nina Penenun dirasa tidak berfaedah baginya. “Namun dipikir-pikir, setelah cukup lama, saya jadi belajar untuk memimpin diskusi dan berorganisasi dari Kelompok Nina Penenun, saya juga sempat dikirim ke Jakarta dan belajar banyak hal untuk menyampaikan aspirasi saya sebagai perempuan,”.

Walaupun bertugas sebagai bendahara, bu Nely juga mengambil peran lain sebagai pengawas produksi, “Dari semua proses, saya paling suka proses pewarnaan. Karena itu, saya juga senang ketika mendapat tanggung jawab untuk untuk mengawasi proses pewarnaan dari para penenun yang bermitra dengan kami,” jelasnya. Ketika kami mengikuti bu Nely untuk berkeliling desa, tampak sekali bahwa ia sangat menikmati proses kerjanya.

Para penenun sangat menghormati bu Nely walaupun usianya masih relatif muda dibanding para penenun yang lebih senior. Tak heran, Bu Nely memegang peranan penting sebagai salah satu penggerak. Orang-orang di sekitarnya pun mengakui bahwa bu Nely adalah sosok yang sangat berdedikasi. Berbeda dengan kebanyakan perempuan di sekitarnya, ia adalah orang yang sangat tegas dan asertif. Walaupun terkenal mempunyai sifat yang keras, ia merasa bahwa hal tersebut diperlukan untuk mendorong lebih banyak perempuan lagi untuk berkembang.

Tentang Komputer dan Sistem

Dari pertemuan kami dengan bu Nely, kami merasa bahwa dibutuhkan lebih banyak lagi perempuan yang dapat memainkan peran yang dominan pada organisasi di wilayah manajemen organisasi. Bu Nely sendiri merasa bahwa kemampuan dasar untuk mengoperasikan komputer sangat penting untuk diajarkan pada masyarakat sekitar. Sebagai daerah yang terpencil, Pringgasela belum tersentuh modernisasi seutuhnya. Dengan pelatihan dasar dalam mengoperasikan media digital, maka para perempuan di Pringgasela dapat mulai mengenal tentang sistem dan mengadopsi cara bekerja yang lebih sistematis agar ada lebih banyak perempuan lagi yang bergerak dalam manajemen organisasi.

Pin It on Pinterest