Lale Samiati, Perempuan Mungil yang Menciptakan Mimpi Raksasa

Pilih bahasa: ID | EN

Banyak orang yang mengagumi kemampuan Samiati untuk menenun. Ia sangat cekatan dalam menenun. Selain hasilnya bagus ia dapat mengerjakan kain tenun dengan waktu yang relatif lebih cepat. Bahkan ia masih menyimpan kain tenun pertamanya yang tidak disangka, merupakan kain tenun dengan motif yang lumayan rumit.

“Cita – cita saya dulu tinggiiii sekali. Mau jadi astronot”
“Waaaah…”
“Tapi nggak bisa. Sekolahnya cuma sampai SD…”

Diantara para perempuan yang kami wawancarai, hanya Samiati yang punya cita-cita setinggi langit: Ia ingin menjadi astronot. Ia mengaku mengetahui profesi astronot dari televisi. Dengan melihat berita tentang bulan waktu itu, Samiati penasaran sekali ada apa di sana, karena itu ia ingin sekali bisa mengunjungi bulan. Waktu ditanya guru saat SD, memang hanya ia sendiri yang ingin menjadi astronot, lainnya rata-rata ingin menjadi guru. Sayangnya, Samiati hanya bisa menyelesaikan sekolah sampai SD, karena itu ia beralih ke profesi lain yang ternyata lebih dari sekedar eksplorasi baru, tapi juga melestarikan cerita dari tempat asalnya, yaitu menjadi penenun.

Samati, berpose di depan rumahnya yang baru saja dibangun, dengan kain tenun pertamanya. Kain yang lebar ini mampu membalut tubuh mungilnya.

Tubuh Kecil, Karya Besar

Kami mengunjungi rumah Samiati yang ternyata baru saja dibangun. Walaupun belum dilapisi dengan cat, rumahnya sudah terlihat sangat artistik. Sambil menyiapkan jagung ketan rebus hasil dari petani yang lewat di depan rumahnya, Samiati mempersilahkan kami masuk. Badan Samiati tidaklah tinggi, mungil sekali, namun walaupun badannya kecil, pekerjaannya sangat apik. Ia merupakan salah satu penenun paling berbakat di desa Sukarara.

Samiati diajari menenun oleh ibunya sewaktu ia kelas 2 SD. Walaupun sang Ibu mengajarinya dengan keras, ia tetap menjalani dengan sabar dan mengikuti tiap ajaran dari ibunya. Ibu-ibu di Lombok memang cukup keras ketika mereka mengajarkan anak mereka menenun. Sambil tertawa, Samiati bercerita ia pernah dipukul ketika belajar menenun. “Eh, saya mending diajarkan oleh bibi atau tetangga saya,” kata Samiati. Walaupun begitu, sang Ibu yang merupakan saudagar beras adalah sosok paling inspiratif bagi Samiati. Samiati kecil biasanya diurus dan diayomi oleh kakaknya karena ibunya harus pergi kerja di pagi hari dan pulang malam hari bersama ayahnya. Karena itulah, ibunya tidak punya banyak waktu untuk mengurus Samiati kecil. Belajar tenun bersama sang Ibu adalah waktu ‘ibu-anak’ yang tidak terlupakan bagi Samiati.

Motif tenun Keker; sebuah cerita tentang sepasang kekasih, ditenun dengan penuh cinta dan ketelitian di rumah Samiati.

Dengan ketekunannya, Samiati langsung lancar menenun tidak lama setelah ia mempelajarinya. Kain tenun pertamanya berwarna hijau dengan aksen putih tulang, dengan tingkat kesulitan motif yang cukup rumit. Lucunya, walaupun ada yang ingin membeli kain tenun tersebut, ia tidak mau menjualnya dan bahkan menyimpannya hingga sekarang. Pengalaman menenun pertamanya tersebut telah menjadi bekal baginya untuk menenun sepanjang hidup.

Motif yang paling ia sukai adalah motif Keker, sebuah motif klasik asli Lombok, khususnya Desa Sukarara. Motif Keker bergambar hewan merak yang sedang berhadap-hadapan selagi bernaung di bawah pohon. Motif Keker ini melambangkan kebahagiaan dan kedamaian dalam memadu kasih di bawah pohon. Berbeda dengan penenun kebanyakan, Samiati terlihat tidak ragu-ragu untuk memilih motif yang rumit dengan banyak warna. Banyak dari hasil tenun Samiati yang kami lihat langsung menarik mata. Bu Nur, pemandu kami juga mengaku bahwa alasannya membawa kami untuk mewawancara Samiati adalah hasil kerjanya yang cepat, rumit, dan rapi. Karena itulah, banyak orang menjulukinya ‘Kecil-kecil cabe rawit’.

Jagung khas Sukarara, baru saja dipetik dan dijual langsung oleh petaninya sendiri.

Pernikahan, Bagi Samiati

Samiati adalah orang yang ceria dan terlihat sangat senang dengan kehidupan pernikahannya. Berbeda dengan beberapa perempuan yang kami wawancara, Samiati menikah dengan laki-laki yang disukainya, sehingga walaupun menurut tradisi Lombok melamar perempuan harus dengan cara diculik atau dilarikan ia mengaku bahwa pernikahannya didasari atas kesepakatan satu sama lain.

Suami Samiati sama-sama berperawakan kecil dan memiliki perbedaan usia 10 tahun. Mereka bertemu pertama kali di sebuah acara jogetan (pesta dansa). Ketika menikah, Samiati sudah berusia 19 tahun. Ia juga bercerita bahwa suaminya cukup setara dalam memposisikan dirinya di rumah tangga. Suaminya dapat memasak atau mencuci sendiri ketika Samiati sibuk atau sakit. Samiati juga dipercaya suaminya untuk memegang keuangan rumah tangga, bahkan memperbolehkan Samiati untuk melanjutkan sekolah. Walaupun begitu, nampaknya Samiati lebih tertarik untuk mengembangkan diri dalam bidang tenun-menenun.

Ketika ditanya tentang apa yang ia butuhkan, Samiati bercerita bahwa ia ingin sekali bisa belajar menjahit agar dapat membuat produk-produk baru dari kain tenun buatannya. Ia pernah berinisiatif untuk datang ke tempat kursus jahit namun biayanya cukup mahal untuknya. Bentuk-bentuk pelatihan dasar yang praktis seperti ini diharapkan dapat membantu ibu-ibu di Lombok dalam mengembangkan produk mereka secara mandiri.

Pin It on Pinterest